(and yet) Another Hook

Benarkah Instagram, Facebook, dan Twitter ‘hanya platform’?

Benarkah orang-orang yang mengunggah tweet atau foto setiap saat hanya “gabut” atau “caper”?

Mungkinkah kegiatan kita di media sosial adalah hasil manipulasi dan kita adalah kelinci percobaan?


Bukan “Gabut”, Tapi Adiksi

Saya masih ingat teriakan Mama beberapa tahun lalu melihat saya menghabiskan waktu bermain smartphone hampir seharian. Sekarang, setiap percakapan telepon dan video call kami berisi cerita Mama saya soal jumlah likes, komentar, dan kehidupannya di Facebook.

Adiksi terhadap smartphone bukan lagi sesuatu yang baru dan begitu umum sampai dianggap wajar dan biasa saja.

Kenyataannya, smartphone secara spesifik didesain dan diperbaharui untuk membuat kita “kecanduan”. Tristan Harris, mantan product manager perusahaan besar Google mengakui hal ini, “your telephone in the 1970’s did not have a thousand engineers on the other side of telephone who were redesigning it everyday to be more and more persuasive.”1

Kecanduan atau adiksi diartikan sebagai tindakan mencari atau melakukan sesuatu secara berkelanjutan tanpa memandang konsekuensi negatif.

Apa ini salah kita?

Sayangnya, tidak 100%.

Para engineers dan desainer yang disinggung Tristan Harris tahu bagaimana meningkatkan perilaku adiksi, dan mereka menggunakan pengetahuan tersebut untuk memanipulasi zat kimia otak kita supaya kita menghabiskan lebih banyak waktu bermain gadget.

Mereka memanfaatkan zat kimia otak yang disebut dopamin.

Apa itu dopamin?

Mudahnya, dopamin adalah hormon dalam tubuh yang bertanggung jawab atas banyak hal, termasuk kegembiraan dan motivasi. Dopamin dilepas pada situasi-situasi yang menyenangkan sehingga kita cenderung mencari dan menginginkan situasi tersebut berulang-ulang. Aktivitas neuron dopamin meningkat sebagai respon terhadap situasi menyenangkan atau reward, bahkan terhadap tanda-tanda datangnya situasi menyenangkan atau reward.

Inilah yang dimanfaatkan para desainer teknologi. Dengan memanipulasi pelepasan dopamin, otak bisa meminta kita melakukan sesuatu berulang-ulang demi mendapat sensasi yang sama.

Ramsay Brown misalnya, mendirikan start-up bernama Dopamine Labs yang menciptakan brain-hacking code untuk perusahaan-perusahaan aplikasi.

Bagaimana cara kerja Dopamine Labs?

Pertama, menggunakan prinsip psikologi yang disebut penguatan sebagian atau variable rewards. Kalau kalian membaca contoh ringan saya sebelumnya di sini, mudah dipahami bahwa “hadiah” yang muncul secara acak dan tidak terduga akan lebih mungkin membuat kita “penasaran” dan membuat kita sulit berhenti melakukan sesuatu.

Hal ini dianalogikan Tristan Harris sebagai mesin slot kasino, yang membuat kita terus mencoba karena setiap percobaan mengandung ketidakpastian dan kemungkinan akan hadiah. Pada level yang lebih dalam, ini berkaitan dengan pelepasan dopamin tadi.

Kedua, semakin banyak data pengguna yang dikumpulkan, aplikasi melewati proses personalisasi. Dopamine Labs menggunakan artificial intelligence software bernama Skinner (yang tentu saja berasal dari ilmuwan psikologi B.F. Skinner), yang memantau kegiatan pengguna aplikasi, sehingga aplikasi dapat menyesuaikan kebutuhan dan aktivitas pengguna.

Berita baiknya, Dopamine Labs menerapkan sistemnya pada aplikasi-aplikasi kesehatan, diet, dan pembelajaran. Berita buruknya, cara yang sama digunakan aplikasi-aplikasi lain termasuk media sosial untuk membuat kita para pengguna, kecanduan.

Dengan memanfaatkan cara kerja dopamin, aplikasi membentuk perilaku, pikiran, dan perasaan pengguna yang berujung pada adiksi.

Kalau kalian dengar orang-orang bijak berkata, “media sosial itu hanya platform dan netral, kita sebagai manusia yang memegang kontrol.”, silakan kirim tulisan ini dan link-link terkait di bawah karena itu salah besar.

Sebagai contoh, Instagram mendeteksi aktivitas kita dan menahan pemberitahuan adanya likes baru, untuk kemudian muncul, atau lebih tepatnya menyerbu dalam waktu bersamaan di waktu yang mereka rasa efektif. Hasilnya? Saat kita berpikir untuk menutup Instagram, mendapat “serbuan” likes membuat kita berubah pikiran dan kembali menunggu likes selanjutnya.

Contoh lainnya adalah Snapchat streak. Masih ingat emoji yang berubah-ubah tergantung seberapa intens kita berkomunikasi dengan pengguna lain? Snapchat streak adalah “hadiah” berkelanjutan yang bisa kita dapatkan semakin sering kita menggunakan Snapchat. Lebih parah lagi, hadiah yang tampaknya “tergantung pada kita” ini bisa hilang kalau tidak dipertahankan. Dengan kata lain, selain mendorong kita untuk terus-terusan berkomunikasi dengan pengguna lain untuk mendapat “hadiah” selanjutnya, kita juga harus terus-terusan kembali dan “menjaga” hadiah tersebut. Trik Snapchat streak juga menimbulkan kecemasan pada remaja akan hilangnya “hadiah” atau poin tersebut.2

Contoh lain yang menarik adalah algoritma linimasa. Instagram, Twitter, dan Facebook mengganti tampilan linimasa sehingga yang kita lihat tampak acak dan bukan sesuai urutan waktu. Sebenarnya, yang kita lihat adalah hasil algoritma berdasarkan aktivitas kita, misalnya foto-foto yang kita suka dan interaksi kita dengan pengguna lain.

Apa hasilnya? Banyak. Kita “tanpa sengaja” bertemu pengguna-pengguna lain yang cara berpikirnya serupa dengan kita, atau memiliki pandangan politik yang sama dengan kita. Foto-foto dan berita baru terkait dengan apa yang kita lihat sebelumnya terus-terusan muncul dan membuat kita semakin penasaran, atau kita menjadi lebih sering melihat foto atau tweet terbaru teman-teman dekat kita daripada orang yang tidak kita kenal sama sekali.

Tanpa perlu penjelasan ilmiah atau psikologis, sangat jelas bahwa hal-hal tersebut membuat kita lebih betah berlama-lama di media sosial.

Selain dopamin dan manipulasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan aplikasi, adiksi terhadap smartphone juga terkait dengan kecemasan. Pernah dengar istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau kekhawatiran melewatkan sesuatu? Akses informasi yang mudah dan cepat lewat smartphone membuat kita merasakan kekhawatiran tersebut meskipun hanya dalam beberapa menit. Kita merasa cemas kalau-kalau ada sesuatu yang kita lewatkan selama kita berkegiatan tanpa mengecek smartphone.

Tanpa kita sadari, rasa cemas yang terjadi setiap kita berkegiatan tanpa smartphone lama-kelamaan mendorong kelenjar adrenal melepaskan kortisol atau hormon stress. Kortisol membuat kita merasa cemas dan mengecek smartphone adalah cara untuk meredakan kecemasan. Rasa lega ketika mengecek smartphone dan rasa cemas tanpa smartphone inilah yang meningkatkan adiksi terhadap smartphone. Kecemasan lainnya adalah rasa canggung di situasi sosial dan dapat diredakan dengan meraih smartphone.

Jadi, adiksi terhadap smartphone bukan semata-mata berasal dari popularitas, likes, pekerjaan, dan sensasi dari merasa penting dan spesial. Hal-hal tersebut hanya hadiah-hadiah lain yang meningkatkan adiksi kita.


Tapi Kenapa? Apa Tujuannya? Untuk Siapa?

Aplikasi-aplikasi media sosial tidak berbayar karena mereka bukan diciptakan untuk kita, para pengguna.

Klien mereka sebenarnya adalah perusahaan pengiklan. Sesederhana itu.

Fitur-fitur terbaru dari smartphone dan media sosial bukan demi kebahagiaan dan kepuasan para pengguna, melainkan untuk menarik atensi dan data pengguna sebanyak-banyaknya untuk “dijual” kepada perusahaan pengiklan.

Satu contoh mengenai data dan informasi adalah tracking, profiling, dan targeting. Singkatnya, data dan informasi pengguna baik yang diunggah maupun aktivitas di internet dan sejarah pencarian digunakan perusahaan pengiklan untuk memunculkan iklan yang spesifik. Semakin sering kita menggunakan internet dan media sosial, perusahaan-perusahaan tersebut semakin “mengenal” kita dan tahu apa-apa saja yang sudah pasti menarik perhatian kita. (Hal ini sekarang sudah semakin jelas dan lebih terang-terangan dengan adanya persetujuan cookies dan iklan-iklan produk terkait yang langsung muncul di semua media sosial.)

Namun, yang lebih menarik adalah atensi.

Atensi sebagai sesuatu yang kita beri secara gratis, tidak membuat kita merasa kehilangan dibandingkan data dan privasi.

Fitur-fitur yang semakin hari semakin menarik atensi kita tentu saja memperkaya perusahaan-perusahaan aplikasi tanpa membuat kita merasa dirugikan.

Apa benar kita tidak dirugikan?

Meskipun proses manipulasi dan adiksi sudah berlangsung lama, dampak negatif smartphone semakin hari semakin jelas dan terasa sekarang. Banyak sekali penelitian dan artikel terkait dengan depresi dan kecemasan yang disebabkan oleh media sosial.

Dampak negatif lainnya yang terasa tentu saja berkurangnya produktivitas, meningkatnya tekanan sosial dan perilaku konsumtif, serta dampak sosial lainnya seperti provokasi massa, berkurangnya empati, dan perasaan terisolasi.

Meskipun banyak pengguna mendapatkan uang melalui media sosial, serta atensi adalah hal cuma-cuma dan tidak ada habisnya, dampak dan adiksi terhadap smartphone ternyata jauh lebih serius. Di antaranya:

1. Mengubah struktur dan aktivitas otak

Neuroplastisitas membuat otak kita secara terus menerus berubah secara struktural dan fungsional berdasarkan pengalaman dan input dari lingkungan. Melakukan suatu aktivitas secara berulang-ulang memperkuat hubungan antar neuron, yang dapat berguna dalam pembelajaran, latihan, dan pembentukan kebiasaan. Sayangnya, ini berlaku juga ketika kita meraih smartphone berulang-ulang. Banyak penelitian yang menunjukkan pengaruh smartphone dan internet terhadap struktur dan aktivitas otak, bahkan terhadap hubungan otak dengan ibu jari.

2. Melemahkan memori

Handphone di awal kemunculannya, dengan fitur kalender dan kontak, mempermudah kita menyimpan agenda dan nomor telepon tanpa perlu mengingat dan menghapal. Meskipun demikian, kita masih perlu mengetik nomor telepon dan agenda tersebut sebelum kemudian menyimpannya. Seiring dengan berkembangnya teknologi, kita bisa menyimpan ribuan nomor telepon tanpa perlu melihat atau menyebutkan angka-angkanya.

Fitur lain seperti Maps dan kamera membuat kita merasa tidak perlu mengingat ketika bertanya arah, dan bahkan tidak perlu lagi mendengarkan dan mencatat di kelas. Cukup arahkan kamera ke papan tulis, slide presentasi, atau buku pinjaman.

Lebih buruk lagi, kita tidak perlu berpikir keras dan mengingat-ingat hal-hal kecil, lirik lagu, dan hampir semua hal karena kita selalu bisa menggunakan mesin pencari di internet.

Istilah Google Effect atau Digital Amnesia menggambarkan bagaimana kita tidak lagi bergantung pada memori dan otak kita, karena kita tahu apa pun bisa kita temukan di internet dan tentu saja sesuai namanya, Google.

3. Mengurangi kemampuan berpikir dan konsentrasi

Berkonsentrasi merupakan hal yang sulit karena membutuhkan dua hal: memusatkan perhatian dan mengabaikan hal lain.

Pertama, memusatkan perhatian merupakan hal yang sulit karena melibatkan bagian dari otak yang disebut prefontal cortex sebagai pembuat keputusan dan kontrol diri. Prefrontal cortex dapat menjadi lelah jika kita dihadapkan pada banyak keputusan dan informasi, inilah yang membuat pikiran kita melayang ke hal-hal lain.

Banyaknya informasi yang hadir dalam satu layar dan banyaknya keputusan yang kita buat seperti menutup iklan membuat kemampuan berkonsentrasi menjadi lemah, bahkan ketika tidak sedang dihadapkan dengan smartphone.

Kedua, perhatian manusia yang mudah teralihkan pada dasarnya adalah salah satu cara bertahan hidup (menyadari bahaya yang datang di sekitar ketika sedang melakukan sesuatu). Hanya saja, smartphone memperparah dan mempercepat pengalihan perhatian dan memaksa kita “berfokus” pada banyak hal.

Sementara hasil penelitian Clifford Nass, dkk. (2009) menunjukan bahwa multitasking mengurangi kemampuan untuk berpikir jernih dan fokus. Singkatnya, multitasking berarti melakukan beberapa hal dengan mengurangi performa di masing-masing hal. Dan berkurangnya performa ini terbawa bahkan ketika kita dihadapkan pada ­single-task.³

4. Adiksi itu sendiri

Sama halnya dengan adiksi-adiksi lain seperti pada zat, judi, dan pornografi, adiksi terhadap smartphone juga memiliki fitur-fitur kunci: compulsive use, craving, tolerance, withdrawal.

Hal-hal tersebut, terkait dengan prinsip “hadiah” dan kerja dopamin, membuat kita semakin sulit berhenti seiring dengan berlangsungnya perilaku adiksi.

Tolerance atau toleransi membuat kita terus menerus meningkatkan perilaku adiksi. Dalam hal ini, semakin lama dan sering kita menggunakan smartphone, keinginan kita untuk terus menggunakan dan meraih smartphone juga akan semakin tinggi, dan akan terus meningkat. Damba terhadap likes, retweets, balasan, dan “hadiah-hadiah” lain yang memicu pelepasan dopamin juga akan terus meningkat. Hal ini yang mendorong pengguna melakukan hal-hal yang semakin ekstrem di setiap konten.

Semakin tinggi tingkat adiksi kita terhadap smartphone atau media sosial, akan muncul tanda-tanda withdrawal seperti kecemasan saat kita berusaha berhenti atau mengurangi kebiasaan meraih smartphone. Pada tahap ini, meraih smartphone atau membuka media sosial bukan lagi untuk mendapat kesenangan, melainkan hanya untuk mengurangi kecemasan dan perasaan-perasaan tidak nyaman. Sayangnya, hal ini tetap berlaku meskipun smartphone dan konten-konten di media sosial itu sendiri juga menimbulkan stres dan perasaan tidak menyenangkan.


Berikut beberapa referensi dan informasi lanjutan jika kalian tertarik dan ingin tahu lebih dalam:

Dopamine Labs, Ramsay Brown, dan Tristan Harris:

¹ 2017: What is “Brain Hacking”? – https://www.youtube.com/watch?v=ML55uumQgzA

² Dopamine Labs – https://youtu.be/9x8jOvhxs9w

-Artificial Intelligence + The Neuroscience of App Addiction with Ramsay Brown on MIND & MACHINE – https://www.youtube.com/watch?v=ITtdUN5BbEw

-Tristan Harris (lengkap) – http://www.tristanharris.com/essays/

Lain-lain:

³ Jurnal Cognitive Control in Media Multitaskers – Clifford Nass – https://www.pnas.org/content/106/37/15583?wptouch_preview_theme=enabled

– Artikel FOMO- The Science of FOMO and What We’re Really Missing Out Onhttps://www.psychologytoday.com/us/blog/ritual-and-the-brain/201804/the-science-fomo-and-what-we-re-really-missing-out

– Jurnal Motivation and Emotion, Milyavskaya, M., Saffran, M., Hope, N. et al. 2018- https://link.springer.com/article/10.1007%2Fs11031-018-9683-5

– Jurnal Google Effects on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips. Daniel, M.W. et al. 2011- https://science.sciencemag.org/content/333/6043/776.full

– Buku How to Break Up With Your Phone dari Catherine Price (2018)

– Untuk data privacy, bisa dimulai dengan mencari artikel-artikel dan jurnal partner saya: Julia Powles.

3 thoughts on “(and yet) Another Hook

  1. Ampuun kak, bagus banget tulisan kakak 😥
    Tulisan kakak tuntas, mudah dipahami meskipun ada beberapa istilah baru. Makasih kak, udah nulis sebagus ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s