Susahnya Nggak Pernah Susah

Sebenarnya udah lama pengin nulis soal WHV, tapi nggak sempet-sempet karena sibuk… mengeluh :))

Dan nggak berasa tau-tau udah tahun kedua aja.

Banyak banget cerita yang dari dulu mau dibagi, dari awal visa granted sampai sekarang udah tahun kedua dan tinggal di kota (Perth). Dari miskin.. sampai sekarang miskin lagi.

Sebenarnya kalau liat ke belakang dan mencerna pengalaman selama tahun pertama, hampir nggak ada yang menarik dan adventurous. Tapi ketika dijalani, dramatis abis!  :))

Kenapa? Benar, karena manja!

Ya bukan dari keluarga yang tajir melintir dan punya perusahaan yang bisa diwarisin, sih. Bukan juga anak yang apa-apa dilayani dan dipanggil “non Kristi” sambil sarapan roti tawar dan oren jus. Aku jadi “manja” karena memang selama 22 tahun hidup belum pernah dihadapkan sama kesusahan yang harus dihadapi sendiri. Punya orang tua yang permisif tapi protektif, lingkungan yang kurang menantang, bikin aku tanpa sadar nggak pernah belajar keterampilan apa pun dan hidup terbilang mulus-mulus aja. Tapi selama hidup aku selalu berusaha untuk cari tantangan supaya bisa keluar dari zona nyaman, WHV ini salah satunya.

Dimulai dari berangkat ke Perth tanggal 2 Februari 2018, langsung ke Fremantle, urus TFN dan bank account, kemudian hari ketiga liat postingan Mbak Dian Sarah junjungan kita semua soal kerjaan dishy di Margaret River. Kucoba apply, dan besoknya langsung diterima.

Rasanya overwhelmed banget. Baru selesai rawat inap di RS di Bali, langsung berangkat ke negara lain sendirian dengan tas ransel seberat 26 kg. Baru 2 hari menyesuaikan diri dan mencerna dunia baru, udah harus pindah SEGERA. Jadilah aku cari tau cara ke Margaret River dari Fremantle pagi-pagi, naik turun Elizabeth Quay Station menggendong ransel bedebah yang bikin mau nangis.

image1

kura-kura ninja

Margaret River dan Tahun Pertama

Sampai di sana juga langsung dijemput Mbak Dian, apa-apa dibantu dan diantar sebelum akhirnya beli mobil seharga $350 saja.

Kerjaan di sana juga bisa dibilang gampang banget (lagi-lagi, kalau dipikirin sekarang). Karena tugasnya cuma cuci piring dan bikin minuman dingin. Tapi karena aku nggak punya pengalaman, bahkan nggak tau kalau harus pakai gloves, dan teramat manja, awal-awal dramatis juga dan tangan berdarah-darah akibat…… membelah frozen smoothie pack.

Ya, cuma membelah jadi dua itu pack yang padahal sebesar telapak tangan.

Ya, padahal pakai pisau roti.

Dan ya, nggak cuma terjadi sekali.

Segitu buruknya keterampilanku.

Tiap ada waitress yang minta tolong baik-baik untuk cuci cutlery, aku merasa tertekan gitu karena nggak pernah kerja atau disuruh-suruh. Bahaha

m a n j a!

Akhirnya, jam kerjaku dikurangi drastis karena payah dan aku harus pindah kamar ke tempat yang lebih murah dan dekat ke pusat kota.

image2
bisa tidur sambil bercocok tanam

Mulai seru ini hidup, waktunya berjuang!

Kucoba buka Gumtree, ada lowongan kitchen hand di winery.

Coba apply, eh satu jam kemudian dihubungi dan diterima. Dan besoknya ada yang nawarin kamar bagus dan modern dengan harga murah.

Nggak jadi berjuang.

Jadilah aku per minggu kerja 35 jam di winery dan 14 jam di café. Kerja di winery itu adalah kebahagiaan duniawi. Kerja gampang, gaji oke, kerja juga dibantuin chef (kebalik, kan!), dapet fancy lunch setiap hari, kopi, wine gratis, orang-orangnya pun super seru.

Sampai akhirnya aku merasa lagi-lagi terjebak di lingkungan yang enak dan nyaman. Kebetulan juga udah waktunya untuk cari kerjaan untuk persyaratan visa tahun kedua.

Mulai lah sok ide, beli mobil yang sedikit lebih mahal (dibanding $350) dan berencana untuk road trip sendiri ke Broome dan cari kerja di sana. Seru banget pasti!

Terus sambil memikirkan rute road trip, coba-coba buka Gumtree lagi, iseng apply satu kerjaan sebagai kitchen hand/all-rounder di salah satu mining town di Pilbara; Paraburdoo.

Eh, keterima.

Belum juga siap untuk road trip, belum juga kasih notice kalau mau quit dari kerjaan.

Pihak employer bahkan mau bayarin + booking-in tiket pesawat dari Perth, dan karena aku keukeuh mau road trip, mereka pasrah dan milih bayarin bensinku selama road trip.

Lagi-lagi, berangkat tanpa persiapan jelas dan buru-buru. Tapi akhirnya berhasil nyetir sendiri selama 4 hari sejauh 2000++ km dengan mobil seharga $1500 yang nggak aku cek, apalagi service.

image1-2
hampir 3/4 perjalanan nggak ada kendaraan lain atau tanda-tanda kehidupan satu pun

Sampai di sana, ternyata selain difasilitasi kamar pribadi, wi-fi, makanan, minuman, dan snack gratis setiap hari, juga disediakan mobil. Jadi lah kujual mobilku dan tau, nggak? Ternyata mobilku itu banyak banget masalah di mesinnya.

Jangan tanya gimana aku bisa selamat dan lancar sampai di sana. Aku beruntung soalnya.

Kerja 50 jam lebih setiap minggu, pas di sana terasa lumayan berat karena nggak ada libur dan di kotanya benar-benar nggak ada apa-apa selain IGA.

Padahal kalau dipikir-pikir sekarang, kerjaan di sana juga gampang banget, seringnya cuma duduk jaga “warung”, sambil motong tomat seadanya kalau bosen.

Dengan semua mulusnya jalanku sebelum apply visa tahun pertama sampai masuk ke tahun kedua, aku masih hidup dengan pikiran bahwa hidup dan WHV ya memang begitu; nggak perlu banyak perjuangan dan akan selalu enak.

Akhirnya, setelah hampir 6 bulan, aku mulai merasa terlalu nyaman lagi dan memutuskan meninggalkan Paraburdoo dengan pikiran bahwa hidupku akan selalu begitu; mulus-mulus aja dan aku harus secara konstan cari tantangan.


Second Year di Perth

Hahahahahah! Aku banyak menertawakan diri sendiri di sini setelah rasanya lebam-lebam berkali-kali dihajar “kehidupan nyata” (setelah nangis-nangis pastinya).

Ketiga kerjaanku yang super enak sebelumnya adalah hasil percobaan pertama dari setiap proses pencarian kerja. Jadilah kupikir, semua pekerjaan yang kita apply pasti akan dapet.

Di sini lah hidup mulai terasa “susah”, aku apply puluhan pekerjaan per minggu dan nggak ada satu pun balasan. Kalau pun diundang wawancara dan trial, ditolak.

Sampai akhirnya aku dapet kerjaan di satu café di daerah CBD sebagai all-rounder. Bisa dibilang daftar kerjaannya hampir sama dengan kerjaan di Paraburdoo, jadi aku dan employer sama-sama percaya diri di awal.

Tapi di sinilah tamparan kedua.

Di Paraburdoo, orang-orang cenderung baik, tenang, dan nggak banyak menuntut. Juga karena di sana hampir nggak ada persaingan usaha, semua orang ‘nerima’.

Aku waktu mulai kerja nggak bisa dan nggak pernah masak SAMA SEKALI, tapi orang-orang di sana nerima kalau makanannya jelek, salah saus, salah ini, salah itu. Aku nggak pernah belajar soal kopi barista sebelumnya, tapi orang-orang di sana selalu nerima meskipun susunya terlalu panas dan kopi jadi hambar. Nggak pernah ada yang protes dan mereka tetap datang setiap hari.

Kembali ke kerjaanku di café di CBD, aku dituntut untuk bisa kerja yang benar-benar all-rounder; jadi kasir, waitress, barista, masak dan bikin minuman, bersih-bersih, dll. Sebenarnya ya sama dengan kerjaan sebelumnya, tapi ini café di tengah kota yang super sibuk dan aku hanya akan dibayar $18, yang mana itu nggak sesuai minimum wage. Kemudian di hari kedua, pemilik café bilang dia mau liat knife skills-ku. Ah! Inget kejadian berdarah-darah di Margaret River? Boro-boro knife skills!

Akhirnya aku disindir dan dimaki-maki karena nggak bisa motong tomat dengan benar.

Itu cuma satu kejadian, banyak banget cerita di Perth yang bikin aku stres dan sedih. Aku jadi pengangguran 3 bulan dan udah habis hampir setengah dari tabungan WHV tahun pertama. Borosnya karena menghibur diri setiap gagal karena mentalku ternyata lemah, nggak paham kehidupan dan alur kota, bayar denda pas nggak sengaja melanggar aturan, kena jebak pas nyewa kamar, dan… ini dia tamparan ke-sekian: driving test.

Jadi, aku berusaha apply kerjaan fly in-fly out yang butuh Australian Driver’s Licence, aku nggak ambil kursus mengemudi yang serius karena lagi-lagi, otak naifku soal kehidupan mikirnya, “ah, nyetir doang”.

Alhasil aku gagal 4 KALI, baru berhasil setelah akhirnya 7 jam kursus dan pergi ke kota kecil 2 jam dari Perth untuk tes (sebelumnya juga ke sini tapi kena immediate fail karena sotoy). Yang bikin down adalah komentar-komentar yang nggak pedas-pedas amat dari asesor dan instruktur-instruktur mengemudi yang penuh drama dan salah satunya bahkan teriak-teriak selama SATU JAM tepat sebelum tesku. Jadilah gagal beserta trauma. :))

Kerjaanku selama 3 bulan lebih sering duduk di tepi Swan River, merenung.

Ini kesannya dramatis tapi beneran. (dan karna emang tinggal di seberangnya juga, sih)

Dari kecil hidup mulus-mulus aja, punya visa WH pun tanpa melewati masa ngebet berbulan-bulan dulu. Di sini baru ketemu kegagalan dan pembelajaran berturut-turut, nggak ada orang tua yang bisa intervensi atau geng yang bisa menghibur. Nggak ada safety net, jatuh sendiri, bangun sendiri.

Terus suka bingung sama diri sendiri:

dikasih gampang, kalo nggak keenakan ya bosen. Susah dikit, ngeluh.

Ternyata, hidup dan WHV itu nggak susah, yang susah itu kalau kita nggak pernah “susah”.

Kerja di Australia berat?

Ya, kalau kamu punya keluarga kaya dan bisa beli apa aja sekali kedip, memang berat.

Tapi kalau kamu terbiasa dan berpengalaman misalnya di bidang hospitality atau kerja fisik, WHV itu enak banget. Dibayar per jam, orang-orang di sini lebih considerate dan hampir nggak ada superioritas-inferioritas antara pekerja dan pelanggan. Kerja lembur? Dibayar. Merasa diperlakukan nggak adil? tinggal lapor pasti ditindaklanjuti.

Susah cari kerja di Australia?

Ya, kalau kamu di Indonesia punya ‘saudara’ di mana-mana dan bisa ngasih kerjaan dengan embel-embel saudara, ya susah.

Tapi di sini ada banyak situs pencari kerja, facebook (yang di sini sangat berguna dan bukan cuma berisi hoax pilpres), kerjaan selalu ada, negara luas, kesempatan banyak, asal mau pindah-pindah state (aku belum mau soalnya) atau perluas peluang dengan bikin sertifikat atau ikut kursus (yang lagi-lagi bisa didapat dengan mudah secara online).

Kita juga beruntung karena visa 462 bisa diperpanjang dengan pilihan hospitality dan cakupan wilayah yang luas. Backpackers dari Eropa harus berkutat dengan penipuan, perbudakan di farm ilegal di daerah antah berantah, pindah-pindah farm karena musim, dijebak working hostel, dan sebagainya.

“Di Australia banyak peraturan dan susah!”
Ya, kalau kamu terbiasa pakai jasa calo, kalau kamu udah nyetir mobil sebelum umur 17, suka naik motor bertiga nggak pakai helm, kalau tiap ditilang kamu suap polisi 50 ribu atau sebut nama saudara yang polisi, memang susah.

Tapi kalau kamu terbiasa “susah” dalam artian suka dan terbiasa mengikuti peraturan dan birokrasi, di sini semua lebih mudah. Semua hampir selalu tepat waktu, sistem dan peraturan jelas dan orang lain pun patuh, nggak ada sogok menyogok, antrianmu nggak akan diselak sama yang “punya kenalan orang dalam”.

Untuk driving test pun (yang sempet aku benci banget), sebenarnya dikasih buku-buku panduan gratis dan semuanya lengkap selengkap-lengkapnya, jelas, dan transparan.

Aku gagal berkali-kali karena nggak kebayang dan menggampangkan, lagi-lagi karena sejujurnya aku nggak pernah sekali pun ujian SIM di Indonesia, sesederhana karena petugas ngasih aja SIM-nya tanpa disuruh ujian. Entahlah.

“Pokoknya hidup di sini susah!”

Kesusahanku selama WHV murni karena aku nggak pernah “susah”.

Karena aku dimanjakan keberuntunganku sendiri dan sayangnya, negara kita, yang standar susah/gampangnya agak aneh, nggak ada parameter yang jelas, dan seringnya nggak pada tempatnya.

Mentalku ternyata lemah dan nggak punya keterampilan berkehidupan sama sekali karena nggak ada kejadian yang mengasah itu semua, ini baru aku sadari setelah WHV.

Australia dan WHV ini sebenarnya dan seharusnya stress-free, tantangan-tantangan yang kita dapat memang harusnya karena kita yang cari, bukan menderita karena keharusan.

Selesai kerja bisa langsung buka medsos, tidur, jalan-jalan, atau nonton Netflix, nggak perlu bawa kerjaan ke rumah atau nggak bisa tidur karena kepikiran kerjaan. Ya kan nggak mungkin piring belum selesai dicuci terus dibawa ke rumah atau bawa pulang pohon ceri buat diperetelin sambil nonton TV.

“Apa-apa mahal”, tapi selalu ada pilihan untuk hidup murah (frozen foods, soup kitchen, op shops itu contoh-contoh kecilnya) dan lagi, di sini bayarannya tinggi (kalau kerja di tempat yang legit dan patuh sama hukum dan minimum wage). Di Indonesia nggak ada yang bayar kamu 200 ribu rupiah per jam untuk cuci piring, pakai mesin pula!

WHV itu fleksibel. Kalau nggak mau kerja, ya liburan lah. Kalau mau cari uang aja, ya kerja lah. Kalau mau traveling-kerja-traveling-kerja, ya silakan. Nggak ada ikatan, nggak ada kontrak kerja seumur hidup, nggak ada rasa nggak enak sama tetangga atau keluarga besar kalau mau pindah state atau kejar kesempatan (ya pasti ada kasus-kasus pengecualian tapi bukan itu poinnya).

Kalau ada yang bilang WHV bukan untuk anak manja, nggak juga. Justru ini saatnya belajar mandiri.

WHV bukan untuk yang maunya selalu manja,

itu masuk akal.

Cerita dan foto-foto lain ada di Instagram: kristizia

6 thoughts on “Susahnya Nggak Pernah Susah

  1. ohh my… Saya sangat terinspirasi banget mbak.
    Saya punya impian buat nyobain WHV Aus ini. Tapi sayangnya persiapannya cukup banyak dan saya masih terjebak skripsi. hihih

    Tapi setelah membaca tulisan ini, rasanya ada yang menampar kesadaran saya untuk segera menyelesaikan studi dan mengejar impian yang harus diwujudkan itu.

    Sangat beruntung sekali rasanya bisa membaca tulisan ini.

    1. Halo! 🙂 dulu aku juga lagi skripsi pas mau daftar WHV, terus jadi semangat dan cerita ke dosen pembimbing supaya disemangatin dan diingetin. Pas banget Juni langsung diizinin sidang karena Beliau juga nggak mau gagalin kesempatan daftar WHV yang cuma setahun sekali. Semangat, ya!

  2. kak boleh minta referensi situs/grup fb/ataus apapun soal kerjaan hospitality atau farm disana gak?? bts thank you buat tulisannya sangat membantu menguatkan mental untuk pergi kesana, aku lagi nunggu pembukaan WHV buat bulan besok thank u, wish you have a great day kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s