It’s Okay to Be Okay

Setiap hari, saya dipercaya cukup banyak orang untuk mendengarkan cerita mereka. Beberapa di antaranya cuma bercerita bahwa hidup mereka terlalu kosong untuk dijadikan cerita. Mereka bertanya, apakah wajar jika tidak merasakan apa-apa? Apakah wajar jika hidup datar-datar saja?

Perasaan-perasaan itu mengingatkan saya pada masa ketika saya juga merasa datar-datar saja. Suatu perasaan asing dan mengerikan bagi orang dengan gangguan afektif seperti saya. Terapi obat yang mulai berhasil membuat saya merasa baik-baik saja dan justru tidak nyaman. Mengingatkan juga pada hal yang saya takutkan saat ini, saat saya memulai lagi terapi obat yang pernah saya hentikan dengan alasan yang sama; takut baik-baik saja.

Tidak merasakan apa-apa itu bukan apa-apa.

Tidak perlu dibesar-besarkan. Sama seperti emosi lain, semuanya adalah fase.

Kadang, kutipan-kutipan untuk menghibur orang-orang yang sedang bermasalah malah membuat merasa bahwa kita SEHARUSNYA bermasalah.

Padahal, tidak juga.

Mungkin masalah itu ada, tapi kita sudah cukup kuat untuk tidak merasa terganggu, untuk tetap bisa tidur nyenyak dan makan enak.

Mungkin juga prioritas kita berubah sehingga hal-hal yang kurang sempurna tidak lagi jadi sesuatu yang salah.

Kita terbiasa membuat dikotomi, hitam-putih, kalau tidak sedih, harusnya senang, sehingga ketika ada di abu-abu, rasanya aneh.

Padahal, sama seperti emosi dan kejadian-kejadian lain, rasa baik-baik saja juga cuma butuh diterima.

Terima bahwa ternyata hidup tidak seburuk kelihatannya, bahwa masih banyak yang bisa kita syukuri keberadaannya, bahwa hidup memang begini adanya; baik-baik saja.

Tidak ada yang salah dengan baik-baik saja, kadang sukar diterima.

Keadaan baik-baik saja kemudian diusik rasa curiga, jangan-jangan setelah ini ada tamparan tepat di muka, atau rasa hampa, masa’ iya, hidup begini-begini saja?

Tidak ada yang salah dengan baik-baik saja, baru bisa disalahkan jika kamu dengan sengaja melepas tanggung jawab, lari dari masalah, sembunyi di zona aman, lalu mengeluh hidup kurang tantangan.

Sama dengan rasa sakit hati, sedih, sukacita, rasa baik-baik saja cuma butuh diterima.

Kamu tidak harus bermain api untuk menyibukkan diri. Perkara tidak perlu dicari-cari.

Jika kamu baik-baik saja tanpa pasangan, baik-baik sajalah. Tidak perlu memaksa berelasi karena merasa ada yang salah.

Jika kamu tak punya masalah, terimalah. Ini bagian dari fase hidupmu, suatu saat pasti kamu rindu.

Terima.

Terima.

Terima.

It’s okay to be okay.

One thought on “It’s Okay to Be Okay

  1. I like your writing.
    Sedikit mrnambahkan, kadang hidup hampa kita merasa bisa ngontrol dan menerima everything seperti psikologis, keuangan, pergaulan

    Pada titik tertentu kita bukan waspada untuk menantikan sesuatu yg tiba tiba terjadi, akan tetapi kita menunggunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s