Belajar untuk Belajar #1: Toleransi

Saya orang yang keras kepala dan selalu merasa diri benar. Akhir-akhir ini, saya sedang belajar untuk belajar; mengizinkan diri untuk berubah, mengakui jika saya bisa salah, dan menjadi lebih baik lagi, dari hal-hal kecil di sekitar saya. Semoga selalu bisa saya tulis di sini.


Untitled-1

“When you mind your own business, life is way less stressful.”

Kutipan di atas adalah “mantra” saya dalam menjalani hidup. Sejak dulu, saya menghindari gosip tentang teman atau kenalan, tidak tertarik mencari tahu tentang kehidupan seseorang, apalagi lewat media sosial. Bahkan, orang terdekat dan keluarga saya pun harus menceritakan sesuatu secara personal, supaya saya tahu kabar terbaru mereka.

Banyak sekali masalah di dunia yang saya yakini bersumber dari orang-orang yang keluar dari jalurnya, tidak mengerjakan “kertas ujiannya” sendiri dan mencampuri “kertas ujian” orang lain. Saya selalu merasa benar dan setiap kali ada berita konflik di TV, saya berpikir seharusnya semua orang menganut “mantra” saya itu. Urus saja dirimu sendiri, tidak perlu ganggu urusan orang lain. Dunia akan jauh lebih tenang.

Sejak minggu pertama kuliah di jurusan Psikologi, ada kalimat yang diingatkan setiap saat kepada kami,

“Setiap individu itu unik.”

“In this life, everyone has a different question paper.”

Kemudian, saya sadar bahwa yang saya yakini selama ini tidak sepenuhnya benar. Jika semua orang seapatis saya, di dunia ini mungkin tidak ada transportasi, fasilitas umum, gotong royong, bahkan interaksi sosial.

Kalimat itu membuat saya sadar, kuncinya bukan tidak peduli, tapi toleransi.

Kelihatannya sama, tidak mempermasalahkan orang lain dan pilihannya. Hanya saja, bukan terpaku pada “kertas ujian” sendiri, tapi mengubah cara jika tetap mau mencampuri “kertas ujian” orang lain, yakni membantu orang lain mengerjakan apa yang sulit bagi mereka dan mudah bagi kita, bukannya menghakimi cara mereka mengerjakannya.

Setiap orang punya pilihan, setiap orang punya kapasitas, setiap orang punya keinginan, ambisi, masalah, dan teknik coping. Di dunia sudah ada aturan, selama itu tidak dilanggar, tidak saling mengganggu dan menyakiti, seharusnya semuanya tenang mengurusi urusannya, mengejar ambisinya, menggunakan free will-nya.

Masalah yang bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di dunia, adalah intoleransi. Di Indonesia, intoleransi beragama masih paling umum di tingkat kelompok, hingga yang terkecil, intoleransi pada pilihan hidup masing-masing individu; menikah atau tidak menikah, segera punya anak atau mengejar karier, cara membawa tubuh, orientasi seksual, cara mengenal Tuhan.

Sebenarnya, menurut saya, masalah toleransi itu lebih besar sekaligus lebih kecil dari yang tertulis di buku PPKn, bukan hanya tentang tidak membuat keributan saat tetangga sedang Nyepi, menjaga rumah ibadah agama lain saat hari besar, atau tidak makan di depan orang yang berpuasa.

Toleransi dimulai dengan tidak merasa diri paling benar dan ideal.

Toleransi dimulai dengan menyadari kita tidak selalu memegang kendali.

Berlapang dada menerima orang lain dengan semua fitur di dalamnya, menghargai perbedaan pendapat, mengerti bahwa tidak semua orang sama dengan kita, dan baik-baik saja dengan itu semua. 

Pembelajaran saya dimulai dengan mengganti kata ‘semua orang’ menjadi ‘setiap orang’ di beberapa paragraf sebelumnya.

Saya sedang belajar untuk selalu mengenal individu dan tidak membuat prasangka. Masih sulit, tentu saja. Ada stereotip, halo effect, kemiripan dengan orang lain yang membuat saya menarik kesimpulan dengan cepat tentang seseorang. Intoleransi dan ego saya masih banyak berperan. Kepala saya masih sering bergumam “apa, sih.” setiap kali saya membaca-baca linimasa media sosial.

Saya masih selalu mengingatkan diri, “setiap individu itu unik”, supaya masih mau mengenal seseorang lebih jauh sebagai dirinya, menghargai dia sebagai manusia, bukannya meyakini ide, persepsi, atau malah fantasi saya tentang dia, dan tentu saja, menghargainya.

Saya sadar, setiap orang membawa sesuatu dan dengan pikiran saya yang terkadang terlalu analitis, setiap pertemuan bisa jadi pembelajaran, yang mungkin bisa membantu saya dalam mengerjakan “kertas ujian” saya. Meskipun tidak berarti saya akan selalu mau berurusan dengan orang-orang yang tidak seharusnya ada di kehidupan saya, yang penting saya tahu, mereka ada, dan saya baik-baik saja dengan itu semua. Ternyata, sesederhana “ya udah, sih..” dan let them be, membuat saya lebih tenang.

Saya juga memberitahu diri saya bahwa membuat dikotomi-dikotomi aneh seperti, “kalau dia suka berdandan, berarti dia bukan kelompok perempuan pintar”, “kalau dia suka musik ini, dia bukan tipe orang dangkal.” itu tidak adil.

Terkadang, masih sulit untuk tidak merasa “kenapa dia tidak punya cara berpikir yang sama dengan saya?”, atau “kenapa dia tidak bisa menoleransi saya, padahal saya berusaha menoleransi dia?”.

Lalu, saya sadar, pertanyaan-pertanyaan seperti itu juga kegagalan kecil dalam belajar bertoleransi dan menerima individu sebagai individu.

Ada orang yang suka berpesta di klub sampai pagi, IPK-nya di atas 3,6.

Ada orang yang suka berpesta di klub sampai pagi, malas ke kampus.      

Ada orang yang suka berpesta di klub sampai pagi, kuliahnya biasa-biasa saja.

Ada yang homoseksual, pikirannya terbuka dan bijaksana.

Ada yang homoseksual, tidak suka baca dan tidak tahu apa-apa soal dunia.

Ada yang homoseksual, pemikirannya biasa-biasa saja.

Ada yang pintar, memiliki banyak teman.

Ada yang pintar, tidak suka bersosialisasi.

Ada yang pintar, kehidupan pertemanannya biasa-biasa saja.

Ada yang selera musiknya sama dengan saya, tapi aspek lainnya sama sekali berbeda.

Semuanya tidak melulu berhubungan.

Saya harus belajar lagi menerima individu sebagai dia, bukan atribut-atributnya. Belajar untuk tidak menarik kesimpulan terlalu cepat, belajar untuk menerima bahwa tidak semua orang sependapat dengan saya, dan tidak menempatkan mereka di “level-level” maupun dikotomi-dikotomi aneh di kepala saya. Belajar menerima orang yang tidak bisa menerima saya, karena kalau kita membenci pembenci, atau menolak menoleransi orang-orang intoleran, apa poin pembeda kita dengan mereka?

4 thoughts on “Belajar untuk Belajar #1: Toleransi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s