I Wish You Were Dead.. ’til You Take Me to Bed

Tadinya saya kira, bertahan di hubungan yang menyakitkan bersama orang yang salah adalah kebodohan. Perempuan harus diselamatkan, diberdayakan. Jangan mau ada dalam hubungan yang tidak menguntungkan. Dan semua kata-kata yang membuat saya terlihat seperti pejuang hak wanita.

Sewaktu SMA, saya bukanlah orang yang peduli pada orang lain, teman saya ketika itu hanya lima; teman semasa SMP yang bisa saya terima.

Saya duduk sendirian, di barisan depan.

Sampai kemudian, wali kelas mengharuskan anak perempuan duduk di belakang. Singkat cerita, saya jadi punya teman, hanya satu, perempuan. Saya yang tadinya tidak peduli, sampai menangis berkali-kali karena pertemanan kami. 

Saat itu, dia memiliki pacar. Saya tahu, setiap kali bertengkar, dia dihujani kata-kata kasar. Di chat, di kelas, bahkan di media sosial. Ketika marah, kursi dan meja ditendangi, lalu anak laki-laki itu pergi. Itu terjadi di depan banyak mata, entah bagaimana pertengkaran mereka saat hanya berdua. Setiap hari, saya dan teman-temannya menasehati supaya hubungan itu diakhiri.

Besoknya? Mereka sudah kembali mesra. Teman-temannya yang lain sudah kehabisan energi untuk sekadar membelanya.

Saya tetap di sana, selalu ada tiap anak laki-laki itu mengirim pesan penuh penyesalan sehabis memaki bak kesetanan atau perselingkuhannya ketahuan. Lalu, mereka kembali baik-baik saja. Begitu seterusnya sampai hampir tiga tahun lamanya. Hubungan mereka sebenarnya hanya bertahan 1,5 tahun, sisanya dipakai teman saya untuk menangis dan akhirnya meminta untuk kembali.

Saya, sebagai teman, hanya bisa marah dan menangis. Bingung, kecewa, sakit hati, dan tentunya, tidak habis pikir apa yang membuat dia begitu bertahan di hubungan yang abusive.

Itu cerita yang saya tulis beberapa tahun lalu dan lupa saya lanjutkan. Mungkin akan lebih baik kalau dijadikan tulisan.

Abusive relationship tidak hanya soal memukul. Abusive bisa dalam bentuk verbal, seksual, fisik, emosional, dan mental. Tidak mengalami lebam bukan berarti hubungan itu tidak abusive. Pada cerita teman saya, dia mengalami kekerasan verbal, mental, dan emosional. Dipermalukan dengan kata-kata kasar di tempat umum, disepelekan, diduakan, diancam, dan mungkin ada banyak lagi hal yang tidak saya tahu. Tapi, dia tetap bertahan dan kembali.

Aneh? Tidak. Banyak korban abusive relationship yang bertahan dan kembali. Banyak sekali.

Wajar? Tentu tidak. Hanya karena banyak yang begitu, bukan berarti seharusnya begitu.

Beberapa waktu lalu, saya hampir terjebak di hubungan yang salah. Jika saya pikirkan sekarang, saya heran apa yang membuat saya bertahan di hubungan yang seperti itu. Menunggu giliran diperhatikan karena saya bukan satu-satunya perempuan yang jadi ‘korban’, oleh orang yang sama. Dia bukan orang yang serba sempurna, sama sekali tidak. Ketika ada di sana, logika saya tiba-tiba tidak berguna. Di hubungan teman saya di awal cerita, dia tidak bisa meninggalkan hubungan yang abusive karena saat itu (merasa) tidak punya teman, meski saya terus meyakinkan bahwa dia tidak akan sendiri jika akhirnya mereka tidak bersama lagi. Tapi, saat ini saya punya beberapa teman yang selalu mendukung saya, saya juga bukan orang yang lemah dan tidak punya harga diri.

Abusive relationship tidak hanya bisa terjadi pada perempuan, atau orang yang tidak punya teman, atau yang lemah dan tidak mandiri. Abusive relationship bisa terjadi pada siapa saja.

Lalu, mengapa orang-orang bertahan di abusive relationship? Versi saya, menurut pengalaman, teman, dan sedikit yang saya pelajari di Psikologi, ada beberapa yang bisa menjadi kemungkinan:

1. Seorang abuser biasanya manipulatif

“aku minta maaf, ya, tadi mukul kamu. Soalnya tadi kamu…..”

iya, mereka meminta maaf, sambil menciptakan mind-game yang membuat korban merasa bahwa kesalahan ada pada diri si korban.

“jadi gitu, ya. seandainya aku gak kayak gitu, mungkin dia gak akan mukul.” Ya. Kesempatan kedua.

Ketika selingkuh, abuser bisa membuat sedemikian rupa bahwa perselingkuhannya karena mencari sesuatu yang tidak ada pada korban.

“seandainya aku lebih cantik, lebih seksi, mungkin dia akan milih aku.”

Hal ini terjadi, pada korban perselingkuhan yang kemudian semangat berdandan dan berolahraga… untuk bersaing dengan si perempuan baru (bisa juga terjadi pada laki-laki, tentu saja). Abuser akan memuji dan kembali, tapi kemudian pergi, mencari hal yang lain lagi. Begitu seterusnya.

2. Pembuktian harga diri

Iya, siapa bilang orang yang bertahan di abusive relationship adalah orang-orang yang tidak punya harga diri? Justru beberapa memiliki harga diri yang tinggi, yang biasanya dipuji-puji, yang biasa mendapatkan semua orang yang dia sukai. Lalu, tiba-tiba ada orang membuat dia merasa tidak dihargai. Egonya terusik, lalu berusaha membuktikan, ke dirinya, bahwa ia berharga. Melakukan berbagai macam cara supaya mendapat pengakuan dari orang yang setiap hari menyiksanya secara emosional, lalu tanpa sadar tenggelam di hubungan yang sebenarnya abusive.

Dia tahu dia tidak bahagia, dia tahu masih banyak orang yang mau menerimanya. Hanya saja, bukan hal yang mudah untuk keluar dan merelakan dirinya tahu bahwa ada orang yang menganggapnya tidak seberharga itu. Ini tidak sesederhana memberi makan ego, tidak bisa disepelekan daripada penyebab yang lain. Orang-orang yang bertahan di abusive relationship dengan alasan ini bahkan bisa mengalami depresi.

3. Abusive relationship membuat orang merasa sendirian

Abusive relationship seringkali berawal dari hubungan yang sangat mesra. Pada awalnya, dunia serasa milik berdua. Ketergantungan akan satu sama lain mulai sangat terasa. Perlahan-lahan, teman dan keluarga dinomorsekiankan, bahkan ditinggalkan. Lalu, pada pertengahan hubungan, terjadi kekerasan. Korban (dan mungkin pelaku) tidak bisa meninggalkan satu sama lain karena merasa tidak ada orang lain yang dia punya. Pada beberapa hubungan, korban biasanya dijauhkan dari teman, entah sengaja atau tidak. Sehingga, ketika sesuatu yang buruk terjadi, yang bisa dilakukan hanya memaafkan, daripada hidup sendirian.

Seperti pada nomor 1, abuser yang manipulatif bisa saja membuat citra bahwa dia tidak mungkin melakukannya, atau yang lebih jahat, membuat cerita ke orang di luar hubungannya bahwa korban adalah pelaku yang sebenarnya.

4. Trauma masa kecil

Sebagai ‘umat’ Sigmund Freud dan psikoanalisa, saya percaya bahwa banyak masalah di diri seorang yang berasal dari masa lalu. Beberapa korban abusive relationship yang saya tahu, di masa kecilnya pernah mengalami kekerasan di keluarga. Bisa jadi, mereka tumbuh dewasa dan menganggap memang begitulah mereka seharusnya diperlakukan, atau sesederhana tidak memiliki ‘standar’ atas perlakuan yang seharusnya mereka dapatkan, settle for less. Ada juga yang hanya menyaksikan kekerasan antar orangtua dan melihat orangtuanya tidak memilih perceraian meskipun terjadi kekerasan. Bisa jadi, mereka tumbuh dan berpikir bahwa bertahan adalah satu-satunya jalan, meski yang saya bicarakan bukan konteks pernikahan.

5. Merasa bertanggung jawab

Beberapa orang di dalam abusive relationship sebenarnya pintar dan memiliki empati tinggi. Mereka mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi tingkah laku pasangannya yang abusive. Mereka masih bertahan karena merasa bahwa mereka harus membantu abuser menyadari kesalahannya, memperbaiki dirinya, dan memiliki keyakinan bahwa abuser sesungguhnya jauh lebih baik dari itu.

6. Seks

Judul tulisan ini saya ambil dari potongan lagu Little Mix-F.U. yang terdengar seksual. Bukan tanpa alasan kalimat itu saya jadikan judul tulisan. Saya menemukan bahwa alasan lain orang bertahan di abusive relationship adalah seks. Banyak hal tentang seks, bisa jadi seks yang teramat menyenangkan hingga tidak rela jika hubungan ditinggalkan. Bisa juga seks yang traumatis, biasanya karena hubungan seksual pertama kali dilakukan di hubungan yang abusive tersebut, sehingga korban merasa tidak lagi berharga, tidak akan ada yang menerima, atau mungkin terjadi kekerasan atau pelecehan seksual di dalamnya yang menghasilkan berbagai bentuk trauma psikologis (dan akan sangat panjang jika saya bahas lagi).

Pada beberapa orang, seks berkaitan dengan ego. Mengetahui pasangannya selingkuh atau terlibat one-night-stand dengan orang lain justru membuat ego seseorang terganggu, lalu berusaha membuktikan bahwa ia lebih baik dalam urusan seks atau bentuk tubuh. Ya, kembali ke pembuktian yang tidak ada habisnya dan membuat keterlibatan di abusive relationship semakin lama.

Sebenarnya, masih ada beberapa yang saya rasa bisa jadi alasannya. Masih banyak juga yang tidak terpikirkan, tentu saja. Tapi ini sudah teramat panjang untuk dibaca.

Intinya, lepas dari hubungan yang abusive tidak semudah “ayo dong, love yourself more!”

“udah tinggalin aja, banyak yang mau sama kamu.”

Satu lagi, “bodoh” atau “drama” bukan kata yang pantas untuk korbannya.

One thought on “I Wish You Were Dead.. ’til You Take Me to Bed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s