Tentang Diri – I

2015

Saya sedang suka-sukanya berolahraga dan makan makanan sehat.

Pagi jadi punya tujuan: untuk bergerak dan berkeringat.

Sumber bahagia terbesar adalah otot perut saya yang mulai terlihat.

 

Tiba-tiba, saya mengenal seseorang.

Kami mulai berbalas pesan dan bercerita apa yang sedang kami lakukan.

Dia berkata, “untuk apa sih, olahraga berat-berat? Jelek kalau terlalu kurus atau berbentuk.”

Hari-hari pertama, saya hanya bertanya, “memangnya dia siapa?”

Berminggu berikutnya, saya sudah lupa rasanya berolahraga.

 

2016

Sudah 4 bulan sejak meninggalkan olahraga dan ditinggalkan dia, pada akhirnya.

Saya berfokus untuk belajar memperbaiki penampilan dan mengutamakan diri sendiri, sebagai hasil dari hubungan yang diakhiri terlalu dini.

 

Tiba-tiba, seseorang masuk ke kehidupan saya.

Katanya, dia suka saya apa adanya. Tidak perlu berdandan terlalu lama, tidak perlu menjadi sosok yang bukan saya.

Hari-hari pertama, saya hanya bertanya, “memangnya dia bisa terima?”

Berminggu berikutnya, saya berani bertemu dia tanpa cuci muka.

 

2017

Seperti biasa, saya sudah ditinggalkan.

Tapi saya tetap tidak peduli dengan penampilan.

Lemak? sudah bertumpuk di perut, paha, dan lengan.

Saya didiagnosis gangguan mood dan kini berfokus pada pengobatan.

 

Tiba-tiba, saya mengenal orang baru yang lebih dewasa.

Katanya, semua hanya ada di pikiran saya, tidak perlu dokter segala.

Untuk beberapa hari, saya rasa dia hanya belum mengerti.

Saat ini, saya sudah ingkar 3 kali janji terapi.

Oh iya, jangan lupa,

Dia selalu minta… saya berolahraga.

 

Hari ini, saya menyesali mengapa saya mengakhiri terapi,

saat seseorang yang sebenarnya tidak mengerti, pada akhirnya pergi.

 

Sebelumnya, saya menyesali mengapa saya berhenti berolahraga karena orang yang saya suka, merasa saya tidak memerlukannya.

Sebelumnya lagi, saya menyesali mengapa saya berhenti merawat muka karena dicintai apa adanya.

Tapi, yang paling saya sesali, adalah saya selalu kehilangan diri sendiri.

Yang membuat patah hati sebenarnya bukan ditinggal pergi, tapi menerima kenyataan bahwa dengan mencintai, saya mengkhianati diri sendiri.

Pada akhirnya, saat tidak ada sesiapa, saya selalu merasa hampa.

Karena, ibarat sepatu, diri saya selalu saya tinggalkan ketika memasuki hubungan baru.

Padahal, diri saya adalah teman satu-satunya yang akan setia, saat teman-teman lain muak mendengar cerita putus cinta.

Diri saya adalah satu-satunya yang bisa menerima saya apa adanya, saat orang lain menyerah pada yang lebih menggoda.

….

Setelah ini, saya akan menulis bagaimana cara berdamai dan menyayangi diri sendiri (yang sudah saya lakukan berkali-kali, tapi tetap lupa lagi).

Tunggu, jika kamu juga perlu.

3 thoughts on “Tentang Diri – I

  1. Aku suka cara kamu membawakan ceritany. Persis seperti novel. Dan ak tau klo itu semua yang kmu alami itu nyata. Setelah aku bc bbrp crta mu, jujur aku ingin mengenal km lebih jauh lg, i mean ak pgn mndgr crta mu lbh byk lg. Tp aku tahu mgkn akan agak susah. Wlpn susah, boleh kah aku mengenal km lebih jauh?
    Ak tnggu balasan dr km yahh ^^

    P.s.
    Seharusnya km msh ingat siapa aku, mksdku masih ingat ak yg mana.. Hehehe

    1. Memperbaiki diri itu bagus seharusnya ada motivasi pada diri untuk terus itu. Bukan karena di puji terus jadi tampil apa adanya. Bukannya jika tubuh baik pasanganmu jadi suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s