Menjadi Dunia

 

Sering sekali, saat berselancar di dunia digital, saya menemukan banyak kutipan atau curahan hati perempuan (yang tentunya dengan sangat percaya diri menganggap dirinya mewakili perasaan seluruh perempuan), tentang bagaimana mereka merasa pasangannya tidak punya waktu untuk mereka.
Tentu saja, seringnya dengan bahasa ala remaja yang membuat saya merasa beberapa detik dalam hidup saya sia-sia dengan membacanya.
 
Berbagai tuntutan terhadap pasangan dijadikan tulisan, disebarkan, dijadikan panutan dan haluan dalam hubungan.
Intinya sederhana,
Ingin dijadikan “dunia” oleh pasangannya.
Ingin pasangannya selalu ada dan siap siaga.
Ingin pasangannya membalas pesan kurang dari satu detik setelah pesan dikirim, malah kalau bisa, sudah membalas pesan yang bahkan belum dikirim.
Ingin pasangannya curiga, cemburu, posesif, karena merasa seperti itulah wujud “peduli”.
 
Maaf, saya lupa bahwa puluhan harapan semena-mena tidak bisa dibilang sederhana.
 
Baiklah, intinya, mereka mau pasangan yang tidak punya kehidupan. Titik.
 
Panggil saya ungrateful bitch.
Setelah bilang tidak mau dicintai apa adanya, saya juga tidak menikmati dijadikan “dunia”.
 
Pernah ada seseorang di seberang sana yang selalu membalas pesan saya kurang dari semenit setelah diterima, selalu mengutamakan saya di atas dirinya, siap datang kapan saja selagi bisa, selalu mau berusaha,
 
•sayup-sayup terdengar, “woah, itu tuh pacar goalssss”•
 
Tunggu, saya lanjutkan dulu..
…selalu mencari jika saya membalas pesan terlalu lama (yang maksudnya lebih dari 3 menit, menurut dia), khawatir dan curiga jika saya tiba-tiba “tidak ada”, merajuk jika tahu saya sedang asyik tertawa dengan teman-teman saya, dan menjadikan saya “dunianya”.
 
Masih “pacar goals”?
Mungkin.
 
Dia punya banyak sekali waktu untuk hubungan kami dan saya, sepertinya.
Sampai akhirnya dia mulai punya skenario-skenario luar biasa di pikirannya.
Dia mulai menganalisis sekecil apapun tingkah saya, lalu berkesimpulan saya tidak menghargainya.
Dia mulai menghitung kebaikan yang dia lakukan pada saya, lalu merasa saya kurang dalam membalasnya.
Bahkan mungkin, interaksi kami lebih banyak terjadi di kepalanya daripada di kehidupan nyata.
 
Iya, dia punya sangat banyak waktu untuk itu.
Tadinya, waktunya hanya untuk saya.
Lalu tiba-tiba, dia punya banyak waktu untuk membandingkan saya dengan perempuan lainnya.
Dia punya sangat banyak waktu untuk menduga-duga, untuk menganalisis segala sesuatu yang sebenarnya hanya terjadi di pikirannya.
Dia punya sangat banyak waktu… untuk kecewa.
 
Akhirnya, dia pergi untuk seseorang yang, katanya, lebih bisa “mengapresiasinya”.
Diam-diam, saya lega.
Saya lega dia menemukan orang yang, mungkin, bisa menjadikan dia sebagai “dunia”.
Karena jujur saja, saya tidak bisa.
 
Saya bahkan tidak menikmati dijadikan “dunia”.
Orang yang punya kehidupan, pekerjaan, kegiatan, teman-teman, lalu menyelipkan saya di tengah banyak hal yang dia punya, lebih menarik menurut saya.
Orang yang mencari waktu untuk menghubungi saya di tengah kegiatannya, akan terasa lebih istimewa daripada yang selalu siap siaga. (kegiatan yang wajar dan tidak mengada-ada, tentu saja)
Menyempatkan bertemu dan membagi cerita tentang apa saja yang dilewati saat tidak bersama-sama, terdengar lebih seru daripada melulu membahas soal “kita” dan masa depan berdua yang bahkan belum ada tanda-tandanya.
 
Saya tidak menikmati dijadikan “dunia”.
Mungkin kalian juga.
 
…atau saya yang tidak tahu diri, mungkin saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s