Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Judul lagu dari salah satu penyanyi favorit saya itu pernah membuat saya bergumam, “gak tau diri banget, ya.”
Iya, sudah dicintai apa adanya, belum puas juga.

Sampai kemudian, beberapa bulan yang lalu, ada seseorang yang datang ke hidup saya, yang saya juluki “self-esteem-saver”. Seseorang yang menyelamatkan self-esteem saya saat saya benar-benar merasa tidak berguna.

Dia selalu memuji saya.
Dia tidak pernah menuntut apa-apa.
Ada kalanya saya merasa buruk karena tidak bisa berdandan, tapi dia selalu menenangkan. 
“Kamu cantik apa adanya”, katanya.
Ada hari di mana saya merasa kurang karena karya saya tidak berkembang.
Lalu, dia datang.
“Bagus kok, aku suka.”, katanya.

Hasilnya? Saya tenang.
Setiap ada lubang yang ingin saya tambal, dia anggap tak ada yang janggal.
Saya nyaman.
Tapi “nyaman”,  mungkin memang kata lain dari “jebakan”

Saya jadi menerima diri saya apa adanya.
Bagus, kedengarannya.
Sampai saya menoleransi kesalahan yang saya lakukan, seperti dia yang selalu memaafkan.
Sampai saya merasa sempurna, seperti dia yang selalu menerima.
Sampai saya berhenti mencari tahu apa yang saya bisa, seperti dia yang menganggap saya sudah luar biasa.

Sampai ada hari di mana pertama kalinya, dia menuntut saya,
“Aku merasa gak penting karna kamu gak pernah berusaha impress aku..”

Hanya itu.
Sebelum kemudian, dia pergi begitu saja..
..untuk perempuan lain yang lebih mengerti soal perawatan muka.
Untuk perempuan lain yang lebih segala-galanya.
Untuk semua fitur yang tak pernah dia tuntut dari saya.

Yang tidak saya sadari, selama ini dia menahan diri untuk mengkritisi, sambil mencari.
Mencari sosok yang dia ingini.
Dia menerima saya apa adanya, sambil menunggu sosok yang lebih mendekati sempurna.
Saya? Hanya bisa bertanya apa salah saya sebenarnya.
Kesalahan yang pasti ada, tapi tidak dia beritahukan pada saya.
Sampai akhirnya, dia pergi tanpa bicara.

Saat sudah sendirian, saya duduk melihat diri saya dalam pantulan.
Yang saya lihat adalah sosok yang menyedihkan.
Saya sadar, dicintai apa adanya membuat saya lupa mengeksplorasi apa yang saya bisa.
Hingga saat ditinggal sendiri, saya tidak punya bekal lagi untuk mencari pengganti, bahkan untuk sekadar menyayangi diri sendiri.
Saya terus mengkritisi diri, saat banyak lubang yang saya sadari, tidak lagi ada yang menutupi.
Mau menunggu yang cinta saya apa adanya?
Sama dengan mengubur diri di tempat terperosok sebelumnya.

—–

Pagi ini, ada pesan yang saya baca, 
“nanti dandan yang cantik, ya.”
“Jangan pake sendal jepit, kayak anak kecil banget keliatannya.”
Untuk sepersekian menit lamanya, saya merasa tidak diterima apa adanya.

Diteruskan senyum kemudian.

Tantangan dalam hubungan, adalah sesuatu yang kita perlukan.
Entah itu di pertemanan, percintaan, bahkan hubungan dengan diri sendiri dan Tuhan.

Selama kita bisa membedakan tantangan dan tuntutan, tidak dicintai apa adanya adalah kesempatan.

Saya mengeluarkan sepatu yang tidak pernah saya pakai sama sekali sejak pertama dibeli karena kata-kata, “kamu bagus pakai apa aja.”
Saya mengeluarkan peralatan make up yang syukurnya belum kadaluarsa akibat kata-kata, “kamu cantik apa adanya.”

Percayalah, keluhan “kayaknya aku gendutan.” saat beratmu bertambah 2 kilogram, dibalas, “kamu tinggal bentuk badan dikit lagi, olahraga yuk”, tidak lebih berbahaya daripada, “enggak kok, badanmu tetap bagus.”
 
Orang yang menerimamu apa adanya, akan meninggalkanmu dengan tidak punya apa-apa.
Orang yang memberimu tantangan, meskipun akan tetap meninggalkan, sudah mengantarmu pada perkembangan.

Saya mungkin tidak seketika jadi sempurna, tapi setidaknya, saya tidak akan terus terusan menjadi sama.

Setelah tulisan ini dibaca dan kamu tetap mau dicintai apa adanya, boleh saja.
Yang penting jangan ulangi kesalahan saya.
Jangan lupa, ingin dicintai apa adanya bukan berarti tidak berusaha untuk jadi lebih berguna.

2 thoughts on “Jangan Cintai Aku Apa Adanya

  1. Kak Kristi, aku ngga suka baca atau mungkin belum bertemu bacaan yang menarik ku untuk membaca. Aku pernah dengar katanya orang yang paling mengerikan adalah mereka yang ngga pernah tamat baca satu buku pun, mungkin aku lebih mengerikan haha. Tapi, aku hampir selesai baca semua tulisan kakak. Menyenangkan sekali dari tulisan kakak, ternyata memanng benar kalimat-kalimat bijak yang tersebar yang sering jadi alat penenang orang-orang ngga selamanya benar-benar menenangkan. Makasih kak Kris, atas tulisan yang membuat aku berpikir “Apa ngga mau keluar dari kategori mengerikan? cari buku nih?” ehe!

    1. Halo, Fahtia! Makasih banyak, yaa. Aku pun sebenarnya nggak terlalu suka baca. Apalagi sejak ada smartphone :)) Tapi suka denger audiobooks sambil beberes/nyetir, kadang suka gemes pengin baca bukunya sendiri jadinya. Tapi kalau enggak pun, jadi tau isi bukunya tanpa harus baca. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s