Like, Seriously?

Bukan bermaksud memperkeruh suasana, bahkan entah bahasan ini akan ke mana. Saya cuma perlu menulis segala keributan di kepala saya, seperti biasa..

Apa, ya..

Saya percaya, bahwa saya dan Tuhan yang saya percaya, saling cinta.

Hanya saja, konsep ‘agama’, sejak dulu sudah ganjil bagi saya. 

Katanya, Tuhan Maha Pengasih, Maha Pemaaf, Maha Pemurah. Lalu, dikatakan lagi bahwa jika kamu melakukan hal-hal ini, Tuhan membenci, Tuhan akan murka, Tuhan akan menghukum dan membakarmu di Neraka. 

Katanya, Tuhan itu satu, tapi ada banyak aliran, dengan ajaran yang tak jarang saling bertentangan, dan semua meng-klaim jalannya benar. Saya lebih setuju, bahwa tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar karena kita tidak tahu apapun soal Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang kita ciptakan di pikiran kita sendiri, atau pikiran orang lain yang kemudian kita percaya dan ikuti saja. Tuhan yang membawa harapan tentang hari esok, Tuhan yang memberi semangat saat kita terpuruk, Tuhan yang membuat kita merasa aman hidup di dunia yang tidak kita mengerti sama sekali. Semua akan terjadi sesuai apa yang kita percaya karena sejauh ini, apa pun agamanya, saya lihat kita semua baik-baik saja.

Sebelum ada yang bertanya-tanya, saya beragama, tentu saja. Setidaknya dua ayat di agama ini yang membuat saya tetap bertahan mengatakan bahwa saya menganut agama.  

“Bagaimana pun jalan manusia mendekati-Ku, aku terima, wahai Arjuna, manusia mengikuti-Ku dalam berbagai jalan.”

“Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil pada semua makhluk. Bagi-Ku, tidak ada yang paling Aku benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi. Tetapi, ia yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku, dan Aku bersamanya pula.”

Hanya itu. Apa pun interpretasi dan dari mana pun asal-usulnya, saya tidak peduli. Itu hanya kebetulan saya temukan di kitab suci agama keluarga yang melahirkan saya, dan apa pun itu, itu membuat saya tenang dari segala disonansi kognitif. Titik. 

Ayat yang bertentangan satu sama lain, tentu ada, orang-orang yang menganut agama yang sama dengan saya dan sibuk menghakimi cara saya beragama, tentu ada. Saya memilih untuk tidak peduli dan tidak terlalu banyak mencari tahu. 

Masalah LGBT, perilaku seksual, dan orang yang mengurusi ‘moral’ orang lain dengan cara yang bahkan jauh dari standar ‘bermoral’ ini, membuat saya heran dan tak pernah habis pikir. Sebenarnya, sejak dulu, konsep mengusik kehidupan dan tubuh orang lain dengan alasan membela Tuhan, tidak pernah sekali pun saya pahami. 

Kita hidup di suatu Negara, satu dari ratusan Negara di Bumi, alias 1 dari ribuan milyar planet di satu galaksi, alias 1 dari milyaran galaksi, dan saya yakin masih ada yang lebih besar lagi. Tuhan menciptakan alam semesta, dari amoeba yang bisa membelah diri jadi dua, sampai benda-benda angkasa yang tak terbayang besar dan jumlahnya, dan kalian kira, Tuhan butuh dibela dengan cara menyakiti sesama manusia, yang sama-sama tidak ada apa-apanya. 

Jadi, siapa sebenarnya yang menyepelekan Tuhan?

Saya punya teman yang pernah berkali-kali mencoba bunuh diri. Mengutuk Tuhan, membenci dirinya, mengutuk kehidupannya. Sampai kemudian, dia jatuh cinta tanpa pernah dia sengaja. Hingga hari ini, dia tak pernah berhenti menceritakan kebersyukuran dan bagaimana ia mencintai Tuhan-nya. Teman saya seorang wanita, begitu pula orang yang mengembalikan semangat hidupnya.

Inikah yang Tuhan kalian benci?

Melihat anak-Nya yang terkurung dalam depresi, kini punya alasan untuk bangun pagi dan tersenyum lagi.

Melihat manusia yang meminta maut di masa lalu, kini berdoa agar tak terserang flu karena punya janji untuk bertemu.

Melihat manusia yang pernah benci punya nyawa, kini menemukan kembali semangat hidupnya.

Melihat yang tadinya tak lagi percaya pada bahagia, kini sulit untuk berhenti tertawa.

Itukah yang Tuhan kalian tidak suka?

Benarkah Tuhan menciptakan mereka, memberinya cinta, senantiasa menjaga, menghibur sedihnya, mengusahakan mereka bahagia hingga mereka dewasa, hanya untuk dibakar di neraka, dihakimi, atau dipukuli batu sampai mati? 

…hanya karena mereka saling mencintai?

Saya mungkin hanya mahasiswi Psikologi yang di kelas lebih suka melamun, menggunting kuku, atau menebak zodiak dosen, tapi saya cukup yakin, bahwa ketakutan pada orang-orang yang tidak bersinggungan dengan kehidupannya, kecemasan akan ‘propaganda masif’ yang bahkan tidak ada tanda-tandanya, keinginan menghakimi, mem-bully, menyakiti, bahkan menginginkan orang lain mati hanya karena mereka saling mencintai, juga bukan ciri-ciri jiwa dan mental yang sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s