Media So(sial)

Sebenarnya saya tidak merasakan urgensi untuk menulis hal ini secara tertata, apalagi online. Apalagi sampai membuka blog yang terbengkalai karena tidak mungkin tulisan sepanjang ini saya post di tumblr saya. Ini hanya opini yang biasanya saya utarakan kalau ada yang memancing atau mengajak diskusi. Tapi, akhir-akhir ini, saya mendengar dan melihat banyak sekali keluhan dan dampak dari social media, dan itu bukan lagi hal-hal yang sederhana. Stres, tertekan, iri, bahkan sampai depresi. Sampai munculnya orang ini (saya tidak benar-benar tahu dan peduli siapa dia dan apa alasannya. Yang jelas, saya setuju dengan sebagian besar yang dia bilang, entah itu hoax atau drama, Idc.)

Perasaan-perasaan seperti itu bukan efek yang seharusnya didapatkan dari kegiatan yang bahkan TIDAK WAJIB kita lakukan, kan?

Saya menemukan banyak sekali foto-foto bagus, perempuan-perempuan cantik dan pasangannya yang romantis, foto makanan yang enak dan mahal, liburan yang menyenangkan, dan lain-lain setiap saya melihat  tab ‘explore’ di Instagram menggunakan akun resmi lembaga yang saya kelola. Iya, akun lembaga. Saya punya akun Instagram  pribadi yang jarang sekali dibuka. Yang sering ditertawakan teman-teman saya karena tidak ada isinya. Yang kemudian hanya mereka gunakan untuk menge-tag foto-foto saya (yang seringnya tidak bagus karena menurut mereka, saya tidak punya kebutuhan untuk terlihat bagus di Instagram page mereka.)

Terlepas dari kecemasan saya hidup tanpa handphone, saya bukan anak yang aktif di media sosial setelah era Twitter berlalu. Karena saya berpikir orang-orang lain tidak sepeduli itu dengan hidup saya. Entah, karena saya memang memiliki self-esteem rendah  (entah serendah apa sampai saya tidak melakukan usaha mengundang perhatian yang bisa meningkatkan self-esteem atau memberi makan ego saya), atau hanya over generalisasi, karena saya sendiri, merasa tidak punya kebutuhan untuk tahu tentang kehidupan orang lain. (well, I mean, if you want me to know about your life, your happiness, your problems, let’s go out for lunch or coffee, or text me. Personal. Tell me anything. I’d love to know. But, stalking someone’s social media account just to know about their life and what they do…. idk, I don’t do that)

Oke, lanjut. Selain yang saya sebutkan di atas, saya sering melihat kehidupan selebtweet atau instagram yang terlihat sangat sempurna. Sampai-sampai saya merasa mereka tidak butuh saya. Sebelum akhirnya, saya punya kesempatan bertemu dan berteman dengan banyak orang yang aktif dan cukup terkenal di social media. Dan melihat kehidupan mereka yang tidak selalu persis dengan apa yang terlihat secara online.

Tidak sedikit, mereka yang aktif dan ‘bahagia’ di dunia maya, akhirnya bercerita tentang bagaimana mereka membutuhkan usaha untuk membuat kehidupan mereka tampak sempurna di social media. Ada yang bercerita sambil menertawakan dirinya, ada juga yang secara jujur mengaku sedih karena mereka melakukannya hanya untuk ditunjukkan ke orang lain dan tidak sebahagia kelihatannya. Tidak sedikit juga yang hanya penikmat, lalu terus-terusan mengeluh tentang hidupnya setelah melihat foto atau cerita orang-orang di dunia maya, dan memikirkan cara agar bisa sama seperti mereka. Bahkan orang-orang seperti saya, yang tidak aktif dan tidak begitu peduli, juga mengalami kesedihan dan rasa sepi. Iya, melihat teman-teman yang melakukan semuanya hanya demi likes, followers, comments, dan berbagai hal semu lain. Teman-teman yang lupa makna reuni, birthday surprise, liburan, bahkan pertemanan yang sebenarnya, selain untuk ditunjukkan kepada dunia.

Di balik foto makanan yang mahal dan bagus, seseorang berdiri sampai naik ke atas kursi, mengulang-ulang hingga mendapat foto yang bagus, kemudian mengedit selagi makanannya menjadi dingin dan temannya harus menunggu untuk memulai makan. Lalu, makan sambil memikirkan berapa likes dan pujian atau ekspresi iri yang akan mereka dapatkan.

Di balik foto birthday surprise beserta quotes persahabatan yang luar biasa, mereka duduk tak beraturan dengan handphone masing-masing, tidak bersuara kecuali  untuk mendiskusikan caption yang pas, menunggu hingga likes bermunculan, lalu berpamit pulang.

Di balik foto liburan dan barang-barang mewah, ada yang harus membohongi orang tuanya, atau tak benar-benar membutuhkan dan menikmati liburan maupun barang mewahnya.

Di balik foto pasangan romantis dengan bunga dan segala hadiah mahal, ada yang sebenarnya hampir selalu bertengkar, takut berpisah karena memikirkan reaksi followers-nya, atau bahkan belum bisa benar-benar saling menyayangi, dan melakukan segalanya hanya untuk terlihat bahagia di mata mantan pacarnya.

Memilih hal baik untuk diperlihatkan dan menyimpan masalah untuk pribadi, tentu hal yang sangat positif. Tapi, melakukan terlalu banyak pengorbanan hanya untuk pencitraan dan agar TERLIHAT bahagia, tentu bukan lagi hal yang sama. Apalagi sampai mendefinisikan hidup hanya dengan angka. 

Well, mungkin tidak semua orang butuh menjadi palsu di dunia maya. Dan saya bukan orang yang anti social media, tentu saja. Saya bahkan berkali-kali bertanya pada diri sendiri, apa mungkin saya cuma iri? Tapi saya rasa, jawabannya tidak juga. Saya pernah ada di masa-masa ketika tweet saya mengundang ratusan retweets, respon, pujian, dan semacamnya, namun tidak serta-merta bahagia. Saya juga pernah membuat akun Path hanya untuk menunjukkan pada orang yang meninggalkan saya bahwa saya baik-baik saja (padahal menangis hampir sepanjang masa. Hahaha). Sebelum saya (segera) sadar bahwa itu hal yang sangat bodoh dan kekanakan. 

Dan saya tidak menyindir siapapun. Teman-teman saya adalah teman-teman yang baik terlepas dari apapun makna pertemanan kami bagi mereka. And as long as you’re happy with social media and everything you’re doing, don’t stop. I’m happy for you. Tapi, kalau sudah merasa selalu kekurangan, tertekan, iri, sedih, kesepian, merasa perlu membohongi orang lain, dan melakukan segala cara hanya untuk terlihat bahagia, please, as a friend of yours, I’m begging you to think twice, or 100++ times. 

  

 

God! I love Anna Kendrick. :)))

*tetep* 

One thought on “Media So(sial)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s